Showing posts with label Networking. Show all posts
Showing posts with label Networking. Show all posts

Tuesday, May 20, 2014

Simple DHCP with Cisco Packet Tracer

Mumpung lagi ga da kerjaan, iseng-iseng post lg... :)

Kali ini mau coba konfigurasi dhcp di Cisco Packet Tracer.
yang simple aja namanya juga newbie... #malus

oke mari kita ke topologi :


Confignya :

Router#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Router(config)#int g0/0
Router(config-if)#ip address 192.168.10.1 255.255.255.0
Router(config-if)#end
Router#
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console

Router#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Router(config)#ip dhcp pool test
Router(dhcp-config)#network 192.168.10.0 255.255.255.0
Router(dhcp-config)#defa
Router(dhcp-config)#default-router 192.168.10.1
Router(dhcp-config)#end
Router#
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console

Router#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Router(config)#ip dhcp e
Router(config)#ip dhcp excluded-address 192.168.10.1
Router(config)#
Router#

ini langsung copas aja dari packet tracertnya.... :v

ket:
test : nama pool
network : block network yang nanti diistribusikan buat ip dhcp, kalo config diatas karena pake subnet /24 berarti nanti yang distribusikan itu ipnya dari 192.168.10.1 s/d 192.168.10.254
default-router : ip gatewaynya
ip dhcp excluded-address 192.168.10.1 : ini maksudnya biar ip gatewaynya ga ikut2an didistribusikan, jadi di exclude.

sekarang coba cek di masing-masing pc, apakah sudah dapet ip dhcp :




Nah udh dapet tuh tiga-tiganya, selesai deh... hhe
sebenernya masih banyak option buat dhcp ini, tapi .. ya sesuai judul... "simple dhcp" berarti yang simple aja... :D

Oh ya, gimana kalo dhcpnya itu punya server sendiri, kayak gini :


Bisa pake ip helper, setting di interface routernya :

Router#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Router(config)#int g0/0
Router(config-if)#ip helper
Router(config-if)#ip helper-address 172.16.10.2
Router(config-if)#

oke, sekarang cek di masing-masing pc dah dapet belum ip dhcpnya :




Udah dapet tuh.. hehe... tapi kok mulainya dari 10?
iya soale tak setting di servernya mulai dari 10... :


Selesai juga... huft...
Sekian dan terima kasih, kalau ada kesalahan mohon dikoreksi..

Friday, April 11, 2014

Cisco OSPF Routing

Setelah sebelumnya coba config RIP, sekarang mau coba config OSPF di cisco packet tracer.
Apa itu OSPF? monggo main-main kesini :D

Oke, mari kita lanjut ke topologi. Masih sama kok seperti topologi pada RIP sebelumnya, hanya beda di routing nya aja... hehe..



  • Configure IP pada R1



  • Configure IP pada R2

  • Configure IP pada R3

  • Configure OSPF pada R1

  • Configure OSPF pada R2 


  • Configure OSPF pada R3 


Pada OSPF ini yang kita gunakan bukanlah subnet mask, tetapi wildcard mask...
Apa itu wildcard mask? monggo main kesini .. (efek males ngetik..) :p
  • Test ping PC 1

  • Test ping PC 2
  • Test pign PC 3

Sekarang kita lihat route pada masing-masing router:


R1#sh ip route


Codes: L - local, C - connected, S - static, R - RIP, M - mobile, B - BGP
       D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
       N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
       E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2, E - EGP
       i - IS-IS, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2, ia - IS-IS inter area
       * - candidate default, U - per-user static route, o - ODR
       P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

     10.0.0.0/8 is variably subnetted, 2 subnets, 2 masks
C       10.10.10.0/24 is directly connected, GigabitEthernet0/0
L       10.10.10.1/32 is directly connected, GigabitEthernet0/0
     172.16.0.0/16 is variably subnetted, 4 subnets, 2 masks
C       172.16.0.0/30 is directly connected, Serial0/0/1
L       172.16.0.1/32 is directly connected, Serial0/0/1
C       172.16.1.0/30 is directly connected, Serial0/0/0
L       172.16.1.1/32 is directly connected, Serial0/0/0
O    192.168.10.0/24 [110/65] via 172.16.1.2, 00:04:45, Serial0/0/0
O    192.168.20.0/24 [110/65] via 172.16.0.2, 00:02:58, Serial0/0/1

R2#sh ip route
Codes: L - local, C - connected, S - static, R - RIP, M - mobile, B - BGP
       D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
       N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
       E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2, E - EGP
       i - IS-IS, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2, ia - IS-IS inter area
       * - candidate default, U - per-user static route, o - ODR
       P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

     10.0.0.0/24 is subnetted, 1 subnets
O       10.10.10.0/24 [110/65] via 172.16.1.1, 00:12:26, Serial0/0/0
     172.16.0.0/16 is variably subnetted, 3 subnets, 2 masks
O       172.16.0.0/30 [110/128] via 172.16.1.1, 00:12:26, Serial0/0/0
C       172.16.1.0/30 is directly connected, Serial0/0/0
L       172.16.1.2/32 is directly connected, Serial0/0/0
     192.168.10.0/24 is variably subnetted, 2 subnets, 2 masks
C       192.168.10.0/24 is directly connected, GigabitEthernet0/0
L       192.168.10.1/32 is directly connected, GigabitEthernet0/0
O    192.168.20.0/24 [110/129] via 172.16.1.1, 00:10:04, Serial0/0/0

R3#sh ip route
Codes: L - local, C - connected, S - static, R - RIP, M - mobile, B - BGP
       D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
       N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
       E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2, E - EGP
       i - IS-IS, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2, ia - IS-IS inter area
       * - candidate default, U - per-user static route, o - ODR
       P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

     10.0.0.0/24 is subnetted, 1 subnets
O       10.10.10.0/24 [110/65] via 172.16.0.1, 00:11:18, Serial0/0/0
     172.16.0.0/16 is variably subnetted, 3 subnets, 2 masks
C       172.16.0.0/30 is directly connected, Serial0/0/0
L       172.16.0.2/32 is directly connected, Serial0/0/0
O       172.16.1.0/30 [110/128] via 172.16.0.1, 00:11:18, Serial0/0/0
O    192.168.10.0/24 [110/129] via 172.16.0.1, 00:11:18, Serial0/0/0
     192.168.20.0/24 is variably subnetted, 2 subnets, 2 masks
C       192.168.20.0/24 is directly connected, GigabitEthernet0/0
L       192.168.20.1/32 is directly connected, GigabitEthernet0/0

Ket [110/128], [110/129], [110/65]  :
- 110 = Administrative Distance
- 128,129, 65 = Cost

Yap, Selesai sudah...

Kalau ada yang salah mohon dikoreksi...

Thursday, April 10, 2014

Cisco RIPv2 Routing

Oke, kali ini saya mau coba config routing protocol RIPv2 pada Cisco Packet Tracer.
Apa itu RIP, dan apa perbedaan RIP dengan RIPv2? semua ada disini.. :p

Baiklah langsung saja kita ke topologi..:



Thursday, May 30, 2013

Mikrotik Tranparent DNS

Kali ini saya mau coba berbagi tulisan mengenai implementasi tranparant DNS pada mikrotik. Jujur aja saya masih awam mengenai mikotik >.<. Tulisan ini saya buat untuk bahan dokumentasi saya aja. Kalo menemukan tulisan ini berguna buat sobat-sobat ya Alhamdulillah. Sebelumnya udah tau kan apa itu mikrotik?. Kalau belum monggo jalan-jalan kesini biar tau :). Disitu lengkap.

Oke, kembali ke laptop. Apasih gunanya menerapkan transparant DNS ini pada mikrotik? Hmm.. apa ya... ini sepengetahuan saya aja hehe, cmiiw... :) Gunanya supaya semua request DNS (port 53) yang berasal dari lan akan dibelokkan ke DNSnya mikrotik yang sudah disetting sebelumnya. Jadi apapun DNS yang disetting di workstation/lan, dia akan tetap menggunakan DNS yang ada di mikrotik. Halah gitu deh pokoknya >.<.

Lanjut, pertama-tama setting terlebih dahulu DNS mikrotiknya. Disini saya menggunkan winbox untuk konfigurasi mikrotiknya. Masuk ke mikrotiknya melalui winbox, masuk ke bagian IP > DNS, pada bagian static, klik setting, lalu masukkan DNSnya (disini saya pakai DNS public google). Bisa dilihat pada gambar. Lalu klik ok.


Setelah itu pada bagian IP > Firewall > Nat masukkan settingan berikut :

     chain=dstnat action=redirect to-ports=53 protocol=tcp in-interface=4.LAN 
     dst-port=53 

     chain=dstnat action=redirect to-ports=53 protocol=udp in-interface=4.LAN 
     dst-port=53


4.LAN adalah interface yang mengarah ke jaringan LAN.

Ok selesai, hasil akhirnya adalah seperti berikut:


Dengan begini semua request DNS dari jaringan LAN akan dibelokkan ke DNS mikrotik. FYI ini adalah settingan yang dipakai di tempat kerja saya. Mungkin ada cara lain selain cara yang saya jelaskan tersebut. Tergantung kebutuhan dan kondisi jaringannya. Akhir kata mohon maaf jika tulisannya kurang dimengerti atau kurang jelas, namanya juga baru belajar :|

Disini saya menggunakan Mikrotik RB750 ROS v5.9

Saran, kritik, pertanyaan, komentar dipersilahkan :)

Friday, December 24, 2010

VLSM dan Subnetting (Perbaikan)

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang subnetting dan VLSM pada suatu jaringan di sebuah perusahaan. Saya ambil contoh misalkan pada sebuah perusahaan membutuhkan jaringan dengan kondisi sebagai berikut :

Kita akan mencoba untuk mengatur network atau jaringan dari masing – masing bagian agar setiap jaringan dari bagian tersebut dapat digunakan sebagaimana mustinya.

Wednesday, December 1, 2010

Tes Akhir 2 Jaringan Komputer Lanjut

1. Service yang cara kerjanya mirip dengan mengirim surat adalah :

a. Connection Oriented
b. Connectionless Oriented
c. Semua jawaban benar
d. Semua jawaban salah

Jawaban : a. Connection Oriented

QUIZ V-Class Jaringan Komputer Lanjut

Soal.
1. Apakah yang dimaksud dengan komunikasi broadband ?
2. Sebutkan keuntungan SONET !
3. Jelaskan prinsip kerja dari ATM !
4. Apakah yang dimaksud dengan DSL ?
Jawaban:
1. Komunikasi Broadband merupakan komunikasi data yang memiliki kecepatan tinggi dan juga memiliki bandwidth yang besar. Ada beberapa definisi untuk komunikasi broadband, antara lain : menurut rekomendasi ITU No. I.113, “Komunikasi broadband didefinisikan sebagai komunikasi dengan kecepatan transmisi 1,5 Mbps hingga 2,0 Mbps.”. sedangkan menurut FCC di amerika, “ komunikasi broadband dicirikan dengan suatu komunikasi yang memiliki kecepatan simetri (up-stream dan down-stream) minimal 200 kbps. Maka dari itu komunikasi brodband sering disebut juga dengan komunikasi masa depan. Broadband itu sendiri menggunakan beberapa teknologi yang dibedakan sebagai berikut :
  • Digitas Subscriber Line (DSL).
  • Modem Kabel.
  • Broadband Wireless Access (WiFi dan WiMAX).
  • Satelit.
  • Selular.

Monday, November 8, 2010

VLSM

IP = 200.0.1.0/24

Jumlah divisi = 5
Jumlah lantai = 5
Jumlah router per lantai = 5
#Subnet untuk Router per divisi = 5x (5x 3 Host + 5x (NID+BID))
Berarti 2n – 2 >= 125, n = 7, jumlah vlsm = 128
Net prefix = 32 – 7 = 25

IP router menjadi 200.0.1.0/25 – 200.0.1.127/25 dengan netmask 255.255.255.128
-  Pembagian Host/router = 5

 
#Subnet untuk Router per lantai =  5x2 Host + 5x(NID + BID) = 20
Berarti 2n – 2 >= 20, n = 5, jumlah vlsm = 32
Net prefix = 32 – 5 = 27

IP router menjadi 200.0.1.128/27 – 200.0.1.159/27 dengan netmask 255.255.255.224
-  Pembagian Host/router = 4

 

#Subnet untuk per divisi per lantai =  79host + 5 router + NID + BID = 86
IP = 200.0.2.0/24
Berarti 2n – 2 >= 86, n = 7, jumlah vlsm = 128
Net prefix = 32 – 5 = 27

IP router menjadi 200.0.2.0/25 – 200.0.2.127/25 dengan netmask 255.255.255.128
-  Pembagian Host/router = 7


#Subnet per divisi dengan range IP sesuai kebutuhan dengan VLSM
-  Hasil Subnet

Untuk melihat subnet per divisi dapat di download pada link ini :

http://www.megaupload.com/?d=I1OP0D39

Untuk gambar skema network dapat di download pada link ini :

Tuesday, November 2, 2010

Subnetting pada IP kelas B dengan prefix /22


Sebelum kita membahas mengenai subnetting IP pada kelas B kita akan membahas apa itu IP address dan subnetting :

IP Address

Alamat IP (Internet Protocol), yaitu sistem pengalamatan di network  yang direpresentasikan dengan sederetan angka berupa kombinasi 4 deret bilangan antara 0 s/d 255 yang masing-masing dipisahkan oleh tanda titik (.), mulai dari 0.0.0.1 hingga 255.255.255.255. IP address memiliki panjang 32 bit dan dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian network dan bagian host. Batasan antara network dan host ini tergantung kepada beberapa bit pertama, seperti diperagakan pada tabel di bawah ini. Tabel IP Address Class-high-order bits-bagiancNetwork-bagian host jumlah address

   1. Kelas A : 0 7 24 16.777.214
   2. Kelas B : 10 14 16 65.534
   3. Kelas C : 110 21 8 254
   4. Kelas D : 1110 multicast group (percobaan) multicast group (percobaan) 268.435.456
   5. Kelas E : 1111 multicast group (percobaan) multicast group(percobaan)

Subnetting

Subnetting adalah teknik memecah suatu jaringan besar menjadi jaringan yang lebih kecil dengan cara mengorbankan bit Host ID pada subnet mask untuk dijadikan Network ID baru.

Subnetting IP Address Kelas B

Tabel berikut berisi subnetting yang dapat dilakukan pada alamat IP dengan network identifier kelas B:


Subnetting pada IP kelas B dengan prefix /22

Pada contoh kali ini saya akan menjelaskan pembagian host untuk kelas B dengan network 202.177.13.0/22. Apa yang dimaksud dengan /22 disini ialah berlaku sebagai prefix dari suatu alamat IP, dimana total bit pada suatu address ada 32bit, sedangkan disini 22bit pertama disini berlaku sebagai network address dan 10 bit terakhir sebagai host address. Total host yang akan tercipta dengan alamat network 202.177.13.0 dan prefix /22 ini adalah 1024 alamat. Host range yang kita dapatkan seharusnya antara 202.177.13.0 – 202.177.16.255, total semua 1024 alamat, karena 2 ip digunakan sebagai network address dan broadcast address jadi disini yang dapat digunakan(usable network address) yaitu 1022 alamat. Yaitu antara 202.177.13.1 – 202.177.16.254, network addressnya disini ialah 202.177.13.0 sedangkan broadcast addressnya adalah 202.177.16.255.

Rentang address secara global dapat dilihat pada gambar dibawah ini :


Untuk lebih detailnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Berikut gambar network address yang lebih detail dalam bentuk biner :

klik gambar untuk memperjelas

Monday, October 25, 2010

Jaringan Semantik dan Script


Jaringan Semantik

Jaringan semantik adalah gambaran pengetahuan yang menunjukkan hubungan antar objek. Jaringan semantik terdiri atas lingkaran-lingkaran yang menunjukkan objek dan informasi mengenai objek-objek tersebut. Objek bisa berupa benda atau peristiwa. Antara 2 objek dihubungkan oleh arc yang menunjukkan hubungan antar objek. Gambar dibawah menunjukkan representasi pengetahuan yang menggunakan jaringan Semantik.


 
Dari gambar diatas dapat terdapat beberapa hubungan yang dapat kita simpulkan sebagai berikut:

- Rio bermain komputer di warnet samping ruko milik Pak Noko
- Rio adik Angga buka usaha rental komputer
- Pak Noko mempunyai usaha rental komputer
- Angga buka usaha rental komputer samping ruko milik Pak Noko


Script

Dalam AI (Artificial Intelligence), script merupakan representasi peristiwa-peristiwa yang terjadi secara terurut. Ada enam elemen prole, yaitu :

   1. kondisi masukan, yaitu keadaan atau kondisi yang menjadi syarat terjadinya peristiwa.
   2. track, yaitu variasi kemungkinan peristiwa yang terjadi.
   3. role, yaitu orang atau pelaku perisitiwa.
   4. property(prop), yaitu objek atau perlatan yang digunakan dalam peristiwa.
   5. scene, yaitu gambaran kejadian atau adegan peristiwa.
   6. hasil, yaitu keadaan atau kondisi setelah terjadinya peristiwa.

Berikut contoh script kejadian “pembuatan id game online CrossFire”

Track (jalur) :  Membuat id game online CrossFire
Role (Peran) :  User, Admin Game
Prop (pendukung) :  internet, komputer
Kondisi masukkan :  user memiliki email yang falid

Adegan 1 : User connect ke internet dan mengunjungi situs crossfire
- user mengakses situs lyto.crossfire.co.id
- user masuk ke halaman sign up

Adegan 2 : Pengisian Formulir
- user mengisi formulir dengan email yang valid
- user mengisi form password untuk log-in ke game
- user mengirim data ke admin game

Adegan 3 : Ferifikasi email admin game
- admin menerima data form dari user
- admin memeriksa apakah email user valid
- admin mengirimkan email ferifikasi ke email user

Adegan 4 : Ferifikasi email user
- user mengakses email
- user memferifikasi email yang dikirimkan admin game

Adegan 4 : Pengecekan id
- user menjalakan aplikasi game online crossfire
- user memasukkan id dan password


Hasil :

- id telah dibuat dan user dapat memainkan game
- id gagal dibuat dan user tidak dapat memainkan game

Wednesday, October 13, 2010

Kualitas Layanan VoIP

1. Voice Over Internet Protocol


Voice Over Internet Protocol (VOIP) dikenal juga dengan sebutan IP Telephony didefinisikan sebagai suatu sistem yang menggunakan jaringan internet untuk mengirimkan data paket suara dari suatu tempat ke tempat yang lain menggunakan perantara protokol IP. Dengan kata lain teknologi ini mampu melewatkan trafik suara yang berbentuk paket melalui jaringan IP. Jaringan IP sendiri adalah suatu jaringn komunikasi data yang berbasis packet-switch.

 Diagram VoIP

Sesuai  dengan perkembangan teknologi, kini VoIP memungkinkan komunikasi antar PC ke telepon dan komunikasi antara telepon dengan kualitas layak sehingga layanan VoIP mulai bnyak dijual oleh operator-operator telekomunikasi di dunia. Oleh karena itu jaringan IP harus didesain agar memenuhi persyaratan delay dan packet loss. Packet loss (kehilangan paket data dalam proses transmisi) dan delay merupakan masalah yang berhubungan dengan kebutuhan bandwidth, namun lebih dipengaruhi oleh stabilitas rute yang dilewati data pada jaringan, metode antrian yang efisien, pengaturan pada router dan penggunaan kontrol terhadap kongesti (kelebihan beban data) pada jaringan.

Packet loss terjadi ketika terdapat penumpukan data pada jalur yang dilewati. Hal ini mendorong agar arsitektur VoIP menyediakan infrastruktur yang memiliki kemampuan dan fitur seperti halnya SS7 (Signaling System no 7) di PSTN. Panggilan VoIP memiliki dua jenis komunikasi yang menempati  jaringan IP antara pemanggil (calling party) dan pihak yang dipanggil (called party), yaitu aliran informasi pembicaraan dan message-message signaling yang mengontrol hubungan dan karakteristik aliran media. Untuk membawa informasi digunakan Realtime Transport Protocol (RTP). Sedangkan untuk pesinyalan terdapat dua standar yang dikeluarkan oleh dua badan dunia, yaitu H.323 yang dikembangkan oleh ITU-T dan Session Initiation Protocol (SIP) oleh IETF (Internet Engineering Task Force).


2.  Kualitas Layanan VoIP

Quality of Service (QoS) adalah kemampuan suatu jaringan untuk menyediakan layanan yang lebih baik pada trafik data tertentu pada berbagai jenis platform teknologi. QoS tidak diperoleh langsung dari infrastruktur yang  ada, melainkan diperoleh langsung dengan mengimplementasikannya pada jaringan bersangkutan.

Aplikasi VoIP merupakan aplikasi real time, sehingga tidak dapat mentolerir delay (dalam batasan tertentu) dan packet loss. Delay dapat diminimalkan dengan menggunakan teknologi packet switching sebagai pengganti data switching. Cara lain yang dapat ditempuh adalah mengoptimalkan penggunaan bandwith, mengatur metode antrian yang dipakai dan  menggunakan protokol-protokol management untuk mengatut paket data yang dilewatkan.

QoS pada IP Telephony adalah parameter-parameter yang menunjukkan kualitas paket data jaringan, agar didapatkan hasil suara sama dengan menggunakan telepon tradisional (PSTN). Beberapa parameter yang mempengaruhi QoS antara lain Latency (keterlambatan data), delay, filter, packet loss dan sequence error pada jaringan internet. Selaoin itu QoS juga dipengaruhi oleh pemenuhan kebutuhan bandwidth, jenis kompresi data, interoperabilitas peralatan (vendor yang berbeda) dam jenis standar multimedia yang digunakan (H.323/SIP/MGCP).


2.1. Latency
Latency adalah waktu yang dibutuhkan oleh suatu perangkat dari meminta hak akses ke jaringan sampai mendapatkan hak akses itu. Ada dua jenis latency, yaitu real dan induced. Real latency berhubungan dengan fisikal jaringan dan karakteristik penyambungan dari media pengangkutnya, seperti pesinyalan elektriknya dan clocked speed. Induced latency adalah delay yang terjadi akibat delay antrian pada peralatan jaringan (misalnya ethernet card router).

2.2. Delay

Dalam jaringan VoIP, delay merupakan suatu permasalahan yang harus diperhitungkan karena bagus tidaknya suara tergantung dari waktu delay. Besarnya delay maksimum yang direkomendasikan oleh ITU untuk aplikasi suara 120ms, sedangkan delay maksimum dengan kualitas suara yang masih dapat diterima pengguna adalah 250ms.

2.3. Jitter

Jitter merupakan variasi delay yang terjadi akibat adanya selisih waktu atau interval antar kedatangan  paket di penerima. Parameter ini dapat ditangani dengan mengatur metode antrian pada router saat terjadi kongesti atau saat perubahan kecepatan.

2.4. Packet Loss

Loss Packet (kehilangan paket data pada proses transmisi) terjadi ketika terdapat penumpukan data pada jalur yang dilewati pada saat beban puncak (peak load) yang menyebabkan kemacetan transmisi paket akibat padatnya trafik yang harus dilayani dalam batas waktu tertentu.

3. Penilaian MOS

Untuk Penilaian subjektif kualitas layanan VoIP adalah MOS (Mean Opinion Score), nilai-nilai subjektifnya diambil berdasarkan kepuasan pendengar dan pembicara disaat mengadakan hubungan VoIP. Untuk MOS, secara garis besar dapat dilihat pada tabel berikut:

 
Data kuantitatif yang digunakan untuk menentukan MOS adalah dari sisi metode kompresi, yaitu bandwidth yang dihasilkan serta delay kompresi yang dihasilkan. Tabel penilaian MOS yang didapat dari sisi metode kompresi terdapat dalam tabel berikut ini :